Menanti

Samar-samar suara bincang

Mengusik dalam hening

Kicau burung mulai bersahutan

Menyelinap rintik hujan

Detik demi detik, berlalu

Tak jua nampak seseorang itu

Hingga sang surya,

Hendak beranjak menuju persinggahan

Hingga dua bohlam, kian meredup

Hingga kesunyian, semakin senyap

Hingga yang berdetak, semakin berpacu

Hingga tergores tinta, tuliskan puisi

Yang dinanti tak sedikitpun

Terasa hadir dalam derap

Entah sampai kapan,

Ku harus menanti

ps. masih memutar memori dan mengingat kembali pada situasi apa, kapan, dimana puisi ini tercipta.

Langkah Kebaikan

Langkah kaki menyusuri jalan
Pikiranku tak karuan
Daun-daun berhamburan
Keadaan yang berantakan
Berselimut dinginnya angin malam
Ku helakan napas dalam-dalam
Aku terbungkam, terdiam
Hanya untuk menahan perih yang mendalam
Berupaya air mataku tetap tertahan, hingga redam

Kuat dalam ingatan
Yang pernah ada menghilang perlahan
Aku mulai tersingkirkan
Sampai-sampai terabaikan

Namun, aku tak ingin lagi memusingkan
Segala apa yang membuatku tergantikan
Aku hanya perlu bertahan

Bukan,
Bukan untuk segala pujian
Bukan juga berharap belas kasihan
Melainkan untuk mengasah kepekaan
Yang selama ini aku acuhkan
Bahkan tak jarang aku lupakan
Terimakasih kepada siapa saja yang senantiasa mengingatkan
Baik melalui ucapan, maupun perbuatan
Baik dengan sengaja, maupun spontan
Baik secara tersirat, maupun terang-terangan

Karena kalian,
Semakin banyak tangan-tangan Allah dalam menjemput kebaikan

Semoga,
Aku dan kalian semakin taat kepada-Nya
Menjadi pelindung kedua orangtua
Sebagai pelipur lara saudara-saudara
Dan tak lupa,
Bermanfaat bagi sesama

Aamiin allahumma aamiin.