Life Lesson #1: Diversity

Suatu sore tepatnya pukul 15.18 WIB aku bersama Mbak Rai dan Diana bertemu kembali di salah satu tempat terteduh di kampusku. Sebelumnya aku sudah menyampaikan ke Mbak Rai kalau aku hanya bisa sampai pukul 16.30 WIB karena sudah ada agenda lain, Mbak Rai pun tersenyum dan tak keberatan.

Mbak Rai membuka perbincangan sore itu yang kemudian disambut secara bergantian oleh aku dan Diana. Aku dan mereka tak sungkan berbagi kisah, berbagi wawasan, berbagi pengalaman beserta hikmah dan pembelajaran didalamnya. Disinilah salah satu tempat belajarku untuk menyuarakan isi hati dan opini tanpa aku perlu merasa dihakimi. Selain itu, aku juga belajar mendengar untuk memahami, bukan sekadar menjawab dengan ego. Bahkan ‘pura-pura’ mendengar yang ujungnya jadi nggak nyambung pas menanggapi (pengingat buat diri). Atau kadang-kadang hanya untuk menasihati dan merasa diri ‘paling’ benar–sorry if I ever did it :’)

Aku ingat betul bagaimana aku yang dibesarkan di lingkungan urban dengan Diana yang lahir dan tumbuh di lingkungan rural saling bertukar pikiran, kami bercerita medan di tempat bertumbuh masing-masing beserta problematikanya. Kami jadi tau bahwa setiap tempat tidak ada yang benar-benar ideal dan sempurna, pasti ada kekurangan pun kelebihannya. Setiap tempat punya masalahnya masing-masing, pun solusi yang berbeda atau bisa persis dengan ‘sentuhan’ penyesuaian kembali.

Bagaimana dengan Mbak Rai? Beliau pun punya cerita yang tak kalah menarik. Mbak Rai tipikal manusia yang mengedepankan logika daripada rasa. Bergelut dengan jurnal dan segala hal berbau pengetahuan menjadi menu andalannya sehari-hari.

Sembari menanti kedatangan teman yang lain termasuk Diana, aku dan Mbak Rai berbincang beberapa hal sampai pada topik tentang rasa (tetiba bagian cerebrum di otakku nyeletuk ‘shofi ngga pernah absen dari pembahasan ini ya wkwk’).

Dalam percakapan kami, Mbak Rai menuturkan bahwa ia pernah dicurhati masalah asmara antara laki-laki dan perempuan oleh temannya. Namun seringkali ia kebingungan dalam menanggapi. “Lha piye to shof, aku aja ngga pernah merasakan seperti itu. Jadinya kadang tak jawab gini ‘yowis ngga usah terlalu dipikirin, coba kamu alihin ke hal lainnya yang lebih penting, atau minta tolong sama Allah saja.’ ya sekenanya saja shof.”

Perlahan aku meresapi penuturan Mbak Rai. Sebenarnya ndak ada yang salah dari tanggapan Mbak Rai–khususnya untuk orang-orang yang memang paham akan hal tersebut. Setidaknya aku menyepakati sarannya walaupun aku sadar dalam praktiknya tidak semudah itu; bagi sebagian orang, rasaku.

Kebalikan dari Mbak Rai yang mengedepankan logikanya daripada perasaan, aku justru dominan perasaan, abis itu langsung mikir hehe. Aku pun mencoba menyampaikan pendapatku berdasarkan pengalaman pribadi kepada Mbak Rai. Sejatinya setiap orang punya proses yang berbeda dalam menyikapi kegundahan tersebut. Ada yang melakukan upaya preventif, ada yang tenggelam dulu baru belajar, ada yang berupaya sekuat tenaga menghindar namun tetap saja kecemplung, dlsb. Perbedaan ini bisa dilatarbelakangi karena berbagai hal, bisa karena lingkungan, pemahaman, budaya dan lain-lain. Aku pun menceritakan ketakutanku akan ‘perasaan’ itu di waktu yang ndak tepat (untaian lengkapnya bisa baca disini dan part 2-nya).

Dari percakapan singkat kami, aku bersyukur. Lagi-lagi, Allah mengajarkanku tentang perbedaan. Mbak Rai yang semuanya didahulukan melalui logika, bukan berarti ia mati rasa. Ia tetap berupaya berempati dengan caranya. Sedangkan aku yang tak terhitung berapa kali secara impulsif membawa perasaan, semakin kesini mulai belajar berpikir jernih dan meminimalisir ego dengan berupaya mencari solusi ketimbang meng-‘ayun-ayun’ perasaan kesal supaya oranglain/keadaan harus sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku pun menyadari bahwa logika dan rasa sama pentingnya, hanya saja aku perlu terus belajar dalam menempatkannya.

Kisah singkat ini mengingatkanku pada hal terdekatku, Keluarga. Dimulai dari sinilah aku, kamu dan kita semua bertumbuh untuk saling memahami, menghargai, bahkan menerima setiap perbedaan yang ada diantaranya.

Terkadang kita memang perlu mendiskusikan perbedaan dikala terasa lebih besar mudharat-nya kalau dibiarkan–khususnya bagi yang tinggal/kerja bersama, tapi disaat yang sama kita juga perlu menerima dan menghargai proses masing-masing.

Semakin berkurangnya jatah hidup di dunia, aku semakin memahami. Sejatinya perbedaan dalam hal apapun–baik ras, karakter, suku, dsb–diciptakan bukan untuk memecah kita, terlebih ‘merasa’ paling benar atau superior than others. Perbedaan diciptakan untuk kita bisa saling mengenal, saling belajar, saling menyadari setiap pribadi tidak ada yang diciptakan sempurna.

Kalau kata Mbak Atit di blog-nya, “selalu ada ruang belajar dalam perbedaan.” Kutipan tersebut berasal dari pengalaman beliau berdamai dengan segala beda antara dirinya dengan sang suamik. Berdamai untuk menemukan solusi terbaik bagi 2 kepala dalam 1 atap demi menjaga komitmen dan keharmonisan rumah tangga. Bisa jadi bekal juga nich, ehe.

Suara hujan sesekali menyelinap diantara percakapan aku, Diana dan Mbak Rai. Deras, gemiris, deras lagi, gerimis lagi, begitu seterusnya

“Awet ya, dari jam 10.00 pagi tadi lho” kata Diana. Aku pun melirik jam di handphone yang menunjukkan pukul 16.22 WIB sedangkan jam 16.30 WIB aku sudah harus bergegas. Aku pasrah–to be continue.


Referensi:

https://www.whyislam.org/islam/diversity/

https://astripujilestari.com/2019/06/16/spending-life-with-someone-who-lives-a-totally-different-lifestyle/

21.30 WIB

Malang, 11 Juli 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s