Adiksi

“Aku ingin menjadi sumber kebahagiaan bagi semua orang” ujarnya penuh keyakinan.

Sampai dirinya sadar, ia tidak benar-benar bisa melakukannya. Dia hanya perlu menjadi diri sendiri, tepatnya menjadi sisi terbaik dari dirinya–in a good way. Ia pun semakin sadar, proses menuju kesana diperlukan keberanian serta tekad yang kuat. Sejatinya akan ada ketidakbahagiaan dari beberapa orang dengan jalan yang ia pilih.

Ia meyakini bahwa jalan yang ia tempuh ini adalah pilihan dengan konsekuensi yang mengikutinya, sehingga ia perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah dipilihnya. Do’a dan upaya yang kuat sangatlah penting untuk menentukan pilihan terbaik baginya. Di sisi lain, ia belajar menghargai bahwa setiap jiwa punya pilihan masing-masing. Ia tak lagi memusingkan pilihan siapa yang paling baik.

Semesta akan menyeleksi siapa saja yang akan membersamai perjalanannya. Hati yang lapang menjadi amunisi wajib baginya. Harap dan asa yang tergantung pada jiwa-jiwa tak kekal, ia latih untuk lepas dari gantungannya.

Seringkali adiksi membuat ia lupa pada dirinya. Mengenal lebih jauh tentang dirinya mengapa ia dilahirkan ke dunia, juga memahami apa yang sebenarnya ia paling butuhkan. Di waktu yang sama, ia juga perlu menyadari bahwa sejatinya ia tidak satu-satunya raga di bumi dan berbuat semaunya.

/adik·si/kecanduan atau ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat

Tentang ketergantungan, seringkali dirinya menemukan jiwa dan raga yang bergantung pada zat yang bersifat temporer. Zat itu disebut, manusia.

Sebagaimana ujaran diawal tulisan, tak jarang dirinya mendengar kalimat tersebut. Ia pun pernah mengungkapkannya sepenuh hati. Pilihan untuk menggapai cita itu, ia upayakan sekuat tenaga. Semakin kuat. Hingga ia lelah, tak berdaya, menjadi oleng dan tak tentu arah. Ia mulai meresapi kembali citanya itu.

Adiksi memang kadang membohongi. Terasa bahagia dan tenang mengawali. Kalau tak dibenahi dan hanya mengikuti arus, perlahan mulai menggerogoti diri hingga ke ulu hati. Ngilu sekali.

Tentunya, adiksi ini kepada zat yang tidak abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s