Memaksa, menerima, menyesuaikan diri

Kadang ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan sekuat tenaga. Disaat yang sama, penerimaan menjadi satu-satunya pilihan.

Memaksa untuk menerima. Lha menerima mah menerima aja, kenapa harus dipaksa juga. Benar sih, tapi penerimaan seringkali melalui proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Fitrahnya, manusia tak kehabisan akal untuk keukeuh mengejar apa yang ia inginkan, jarang sekali menerimanya sejak awal. Kalaupun ada, dapat ku pastikan manusia itu sudah terlatih dan terbiasa menghadapinya.

Seusai menerima, manusia pun akan beradaptasi untuk menjalani apa-apa yang ‘tidak sesuai’ inginnya itu. Menata kembali apa yang harus dilakukannya, sekaligus mengingat kembali niat awalnya. Barulah ia menyesuaikan situasi dan kondisi dengan apa yang menjadi pegangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s