Saya juga manusia

Aku masih ingat betul do’aku di akhir 2018 itu, aku hanya meminta untuk keluar dari zona nyaman. Namun, saat itu aku hanya membayangkan aku akan tertempa dengan tugas-tugas administratif, melakukan hal baru yang memang aku pilih, dan hal-hal yang sekiranya masih bisa aku prediksi.

Ternyata, Allah berkata lain. Allah menempaku bahkan dengan hal yang aku tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mengumpulkan semangat, dipatahkan, bangkit lagi, mencoba lagi, salah, evaluasi, memperbaiki, coba lagi, salah lagi, evaluasi lagi, begitu seterusnya. Setidaknya sampai pertengahan tahun 2019 ini, bisa aku bilang tahun penuh air mata sekaligus penuh hikmah didalamnya.

Aku semakin dibuat takjub, saat menyadari tempaan itu datang tanpa aku mempersiapkannya. Jauh dari prediksiku. Rupanya, Allah lebih tau bagaimana mendidik hamba-Nya supaya nggak ‘bandel’ he he. Allah tau bahwa aku mampu menghadapinya–yang ku kira ini terlalu berat.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

Aku kira ungkapan itu sekadar formalitas untuk menghibur diri dan berupaya menerima ketetapan-Nya, disaat yang bersamaan ada hal-hal yang masih belum bisa aku terima. Hingga seorang Mbak mengingatkanku, “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal itu artinya kamu berterimakasih sama Allah seutuhnya. Ngga ada ceritanya kamu nerima sisi baik hidupmu aja. Alhamdulillah atas kurang dan lebih dirimu, hidupmu, lingkunganmu, semua pokoknya wis.”

Iya ya, aku pun baru sadar lebih sering ucap alhamdulillah kalau dikasih kenikmatan aja. Padahal yang kita anggap kesusahan atau musibah yang ada dihidup kita juga perlu kita syukuri, karena seringkali hikmah dan pembelajaran berharga ada disana kalau kita benar-benar mau memahami maksud-Nya–ku masih belajar juga tentang ini kok :’)

Baik intro-nya sudah cukup ya. Intinya tulisan ini aku buat untuk mendokumentasikan pesan-pesan dari tangan-tangan Allah. Disaat aku sadar, aku telah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Mereka, memilih untuk tidak mempertanyakan lebih jauh, menghakimi, bahkan menyalahkan diri ini. Aku masih ingat katamu…

Melalui voice call:

(my (super-duper-best) MOM ever)

“Kak, sekarang bukan waktunya kakak nyalahin diri sendiri. Mau sekuat apapun kamu sesali, itu sudah berlalu. Ambil pelajarannya, fokus menerima kenyataan ini dan hadapi dengan penuh tanggung jawab. Ngga perlu putus asa, selama Allah masih mengizinkan kita bernapas. Kita ngga pernah tau, kenapa Allah setting skenario seperti ini.. InsyaAllah ada hikmah luarbiasa yang kelak kakak bakal tau. Semangat ya kak :)” –

(my (cold, yet warm) DAD ever)

“Fi, kuat ya kuat. Kamu pasti bisa.”

Di ruang tengah asrama:

(Percakapan bersama Riani salah satu adik di asrama)

“Sing penting supporting system utama (umi & abi) sudah menguatkan mbak, ngga perlu lagi khawatir apa kata orang dan ngga ada alasan untuk menyerah sekarang.”

‘Benar juga sih,’

“Oh ya aku jadi belajar kalau hidup itu sawang sinawang ya.”

‘Hah? Apaan tuh?’

“Itu istilah Jawa, yang artinya apa yang terlihat tidak sama dengan yang terjadi sebenarnya. Semisal, aku lihat Mbak kok yo enak hidupnya kayak ngga ada masalah gitu, eh pas denger cerita Mbak barusan, ternyata tidak seenak itu ya..”

‘Haha kadang aku ngerasa cemen, kayak ngga seberapa berat masalahku dibanding oranglain. Banyak yang jauh lebih berat gitu..’

“Sebagaimana yang pernah kita bahas mbak, pada akhirnya semua ini balik kepada kesanggupan masing-masing. Allah lebih tau soal itu.”

‘Sepakat euy, ngga pas memang kalau berat atau ringannya pakai perbandingan dengan oranglain. Meskipun kalau cobaannya serupa suka mikir, dia aja bisa berarti aku juga bisa dong. Pada akhirnya proses menghadapinya pun akan berbeda tiap orang.’

Di kelas:

“Ujian kadang datangnya suka ndadak, siap atau ngganya cuma Allah yang tau. Kita mah pasti bilangnya ngga siap terus. Allah pula yang bakal melatih dan membiasakan kita, siap ngga siap, hadapi. Sing penting, selalu berprasangka baik sama Allah ya nduk–bahkan di titik terendahmu.”

Di masjid:

(Petuah dari para Mbak di tanah rantau, sebagian sengaja dilontarkan usai mendengar ceritaku, sebagian lainnya qodarullah pesan itu terlontar disaat yang tepat)

“Hal tersulit adalah mengakui bahwa diri ini memiliki kekurangan, tapi dengan mengakuinya itu melegakan.”

“Shof, selalu ingat ini (nunjuk Al-qur’an) ya. Ini tuh pedoman, sekaligus obat. Bukan sekadar banyak atau sedikitnya hapalanmu, melainkan seberapa sering kamu berupaya memahami isinya. Terlebih lagi mengamalkannya. Aku berani bilang, ini buku self-guide paling komplit dan ampuh. Sayangnya, kita masih kurang dalam men-tadabburi-nya.”

“Hidup ini bukan tentang balap-balapan, mulai kurangi bahkan kalau perlu hilangkan kebiasaan membandingkan pencapaianmu dg oranglain. Kamu seberharga itu, Shof!”

“Oh ya satu lagi, syaithan itu paling suka kalau kita lagi sedih. Hmm.. silakan saja kalau mau nangis, upayakan sambil dzikir. Berusaha untuk tidak berlarut, karena kemungkinan besar itu kesempatan syaithan untuk menghasut kamu lebih dalam.”

Sejatinya setiap manusia adalah pembelajar dan seorang pembelajar tentunya pernah atau bahkan sering salah, oleh karenanya ia terus berupaya memperbaiki dirinya sampai akhir hayat. Tidak ada kata terlambat bagi seorang pembelajar untuk senantiasa mengevaluasi dan memperbaiki diri selama napasnya masih berhembus. Tetap semangat, yakinlah selalu ada ruang belajar dalam kesalahan. Keep learning and growing!

Terimakasih Shofi yang sudah dan masih terus berjuang sejauh ini. Terimakasih mau menerima diri ini sebagaimana yang Ia berikan kepadamu. Terimakasih masih bertahan dan masih mau belajar lagi, Shofi! 🙂

Terimakasih juga kepada para inspiratorku, para pemberi masukan sekaligus pendukung utamaku, terimakasih kepada yang masih menganggapku ada bahkan di titik terendahku. Terimakasih atas semangat dan do’a setulus hati. Allah lebih baik dalam membalas semua itu.

 

Salam hangat,

Fairuz Shofia Nabila

(seorang manusia biasa, bukan malaikat)

 

21.38 WIB

Malang, 11/08/2019

Adiksi

“Aku ingin menjadi sumber kebahagiaan bagi semua orang” ujarnya penuh keyakinan.

Sampai dirinya sadar, ia tidak benar-benar bisa melakukannya. Dia hanya perlu menjadi diri sendiri, tepatnya menjadi sisi terbaik dari dirinya–in a good way. Ia pun semakin sadar, proses menuju kesana diperlukan keberanian serta tekad yang kuat. Sejatinya akan ada ketidakbahagiaan dari beberapa orang dengan jalan yang ia pilih.

Ia meyakini bahwa jalan yang ia tempuh ini adalah pilihan dengan konsekuensi yang mengikutinya, sehingga ia perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah dipilihnya. Do’a dan upaya yang kuat sangatlah penting untuk menentukan pilihan terbaik baginya. Di sisi lain, ia belajar menghargai bahwa setiap jiwa punya pilihan masing-masing. Ia tak lagi memusingkan pilihan siapa yang paling baik.

Semesta akan menyeleksi siapa saja yang akan membersamai perjalanannya. Hati yang lapang menjadi amunisi wajib baginya. Harap dan asa yang tergantung pada jiwa-jiwa tak kekal, ia latih untuk lepas dari gantungannya.

Seringkali adiksi membuat ia lupa pada dirinya. Mengenal lebih jauh tentang dirinya mengapa ia dilahirkan ke dunia, juga memahami apa yang sebenarnya ia paling butuhkan. Di waktu yang sama, ia juga perlu menyadari bahwa sejatinya ia tidak satu-satunya raga di bumi dan berbuat semaunya.

/adik·si/kecanduan atau ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat

Tentang ketergantungan, seringkali dirinya menemukan jiwa dan raga yang bergantung pada zat yang bersifat temporer. Zat itu disebut, manusia.

Sebagaimana ujaran diawal tulisan, tak jarang dirinya mendengar kalimat tersebut. Ia pun pernah mengungkapkannya sepenuh hati. Pilihan untuk menggapai cita itu, ia upayakan sekuat tenaga. Semakin kuat. Hingga ia lelah, tak berdaya, menjadi oleng dan tak tentu arah. Ia mulai meresapi kembali citanya itu.

Adiksi memang kadang membohongi. Terasa bahagia dan tenang mengawali. Kalau tak dibenahi dan hanya mengikuti arus, perlahan mulai menggerogoti diri hingga ke ulu hati. Ngilu sekali.

Tentunya, adiksi ini kepada zat yang tidak abadi.

living in the moment, the ultimate purpose ❤

Desires are never-ending, while needs end in gratitude.” I, as a seeker of ultimate happiness

Lately, I feel uneasy and empty, until I have no enthusiasm for doing anything I should do

Sometimes, I miss the old me haha. Are funny words to hear, right? But it’s come about me these days

I looked for answers to these questions ‘why this happened to me?’ and ‘what should I do to fix it?’

Till I realized that I just need to live my life to the fullest. It means I should focus on what I have by recalling the purpose of my life, then appreciating the process of my self-improvement every day

I tried my best to restore my long-lost spirit

I force myself to meet and chat with positive people, even though I prefer to be alone (read: depend on the mood 😑)

I force myself to read writings that make my insight wider and better, also when watched something I tend to choose positive and educational content day by day

The last is one thing that my (alm.) grandma, father, and mother always reminded me of. I need to force myself to do worship solemnly as a medium to stay connected with Allah

‘Force’ here is not to be hard on me, but to habituate me to always improve myself, InsyaAllah.

Thank u, for those of you who always strengthen me directly or through du’a. It means a lot, indeed. May Allah help us to remain consistent in worship and kindness. Aamiin ❤


References:

Al-Qur’an Al-Karim

https://www.whyislam.org/spiritual-journeys/feelingempty/

https://novieocktavianemufti.wordpress.com/2019/05/28/heal-yourself-21-motivasi-yang-susah-datang-tapi-mudah-pergi

https://www.quora.com/Whats-the-difference-between-want-need-and-desire-Arent-they-the-same

contemplation: the maintain of intention

Sudah satu bulan lebih blog ini berdebu, jarang bahkan hampir tidak pernah saya tengok. Tentunya, karena ada prioritas yang harus saya selesaikan sebagai tanggung jawab ketika saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di tingkat Strata 1. Sebut saja, SKRIPSI. He he..

Terbilang agak telat apabila dibandingkan dengan teman-teman seangkatan saya. Terlebih, teman-teman satu bimbingan. Tapi aku perlu memahami dan menyadari. Ini bukan tentang adu cepat atau pun mencari siapa lebih unggul, melainkan tentang saling memotivasi, memaknai, menghargai, dan mensyukuri tiap proses yang di lalui. Sungguh, banyak lika liku penuh pembelajaran berharga yang perlu saya bagikan, semoga saja saya harus sempat menuliskannya. Bismillah.

Berbagai tantangan lalu kemudahan, kerikil kecil hingga batu besar dan rintangan-rintangan lainnya selama perjalanan tugas akhir ini saya lewati, selama itu pula saya banyak belajar. Dan dari situlah, didalam kesendirian saya, renungan-renungan serta dialog yang tertuang di alam pikir senantiasa berdatangan. Mengingatkan saya kembali. Beberapa kali ingatan-ingatan itu saya bagikan di Whatsapp Story saya. Hanya untuk berbagi apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Suatu sore di Terminal Arjosari, saya seorang diri menanti kedua orangtua yang tiba-tiba menelepon saya dan mengabarkan bahwa mereka sudah di Malang. Sore itu keadaan lalu lintas di Malang cukup padat. Kalau dilihat dari Google Maps banyak warna merahnya. Saya memutuskan untuk menanti di terminal juga karena keadaan lalu lintas tersebut, terlebih setelah bertemu kedua orangtua saya, saya ada janji untuk mendatangi sebuah kegiatan amal di dekat Terminal. Jadi, ya sekalian saja. He he..

Menikmati semilir angin sore, suara para kondektur yang sedang ‘melamar’ para calon penumpangnya, deru mesin bis yang seakan sudah tak sabar ingin segera melaju, serta pemandangan lain layaknya Terminal di kota. Eh.. Tumben nggak hujan.

Dalam penantian kedatangan kedua orang terhangat bagi saya, sembari mengabari keadaan dan posisi dengan mereka tiba-tiba pikiran saya mulai berdialog kesana kemari. Saya mulai tenggelam dalam pikiran dan berkontemplasi. Haha.. Tiba-tiba saja saya jadi merenung. Mengingat kembali, menyadari lagi apa-apa yang sudah saya lewati. Apa-apa yang perlu saya perbaiki. Apa-apa yang seharusnya saya syukuri. Dan segala tentang perjalanan penuh pembelajaran di hidup saya.

Sudah terhitung 6 bulan saya tidak mengaktifkan akun instagram, yang saat ini sedang naik daun di kalangan para sosmed-er. Sungguh, saya tidak membencinya, pun mereka yang masih aktif disitu. Saya hanya perlu menata ulang kehidupan saya, terutama segala niat yang pernah terpatri. Saya sedang belajar untuk fokus dengan diri saya, bukan, bukan tidak ingin memikirkan yang lain. Hanya saja, saya seringkali kurang mensyukuri ketika saya membuka akun tersebut. Menata hati bukan persoalan yang mudah untuk sebagian orang, mungkin. Kiranya ini yang terbaik sebagai pilihan saya hari ini, entah esok atau suatu hari nanti.*

Dari situ, pikiran saya berkata, “someone who’s not active on social media, doesn’t mean they stop doing things in the real life. nothing goes wrong being active or not on social media, it’s just a choice. the important is, the maintained of our intention on the right path, insyaAllah.”

Wallahu A’lam Bisshawaab.

Sekian dari saya. Semoga bermanfaat 🙂

 

17.11 WIB

Malang, 27 Desember 2018

 

napas sejenak.

self reflecting

picture editing on canva

“Kamu menilai orang C, jangan-jangan nilai kamu E.
Kamu mengira orang sedang berniat buruk, jangan-jangan hanya prasangkamu yang buruk.
Kamu mendeskripsikan seseorang seakan kamu lebih baik darinya, bisa jadi kamu bahkan sangat buruk.
Kamu masih ingat dengan peribahasa, ‘gajah di pelupuk mata tidak terlihat, sedangkan semut di tengah hutan sangat terlihat jelas’ tersebut?
Iya, seringkali kesalahan atau kekurangan kita yang amat besar itu tidak kita sadari dan pahami sama sekali. Namun, kesalahan atau kekurangan seseorang yang tidak seberapa besar, amat jelas di matamu. Membuatmu risih dan tidak nyaman dengan hal tersebut.
Itu bisa menjadi ladang amal kalau kamu mau mengingatkan dengan cara yang baik. Tapi jangan lupa, dalam mengingatkan ada kata ‘saling’ yang artinya kamu harus bersiap ketika mereka mengingatkanmu juga. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, tidak ada manusia yang sempurna. Jadi hargai prosesnya, ya!”

Teguran itu menyadarkanku untuk lebih menata kembali apa-apa yang mungkin saja terbesit walau hanya sedekit dalam pikiranku. Ternyata hidup ini memang bukan hanya tentang menjadi yang paling terdepan ya, terlebih mencari siapa yang paling benar. Melainkan untuk saling menerima kebenaran itu sendiri tanpa perlu menyalahkan, apalagi sampai menjatuhkan.

“Napas, sek. Kalau tergesa-gesa kamu tidak bisa melihat sekitar dengan jernih. Semangat.”
Selamat mengintropeksi diri dan menghargai tiap pribadi 🙂

Datang dan Pergi

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah buku berjudul Reclaim Your Heart karya Yasmin Mogahed, seorang aktivis muslimah asal Mesir yang melanjutkan studi di Amerika Serikat.
Melalui buku tersebut, beliau menceritakan keresahan hati sekaligus refleksi dirinya dengan berpedoman pada Al-Qur’an Al-Karim. Baru pada bab pertama saya membaca, saya merasa seakan-akan tulisan beliau menunjuk dan memberitau kepada saya tentang sesuatu dalam diri saya. Dalam bab tersebut, penulis menceritakan
pengalaman dirinya pada sebuah “keterikatan,” dan saya merasa lekat dengan pembahasan ini. Bisa jadi ada yang juga merasakannya, selain saya. Hanya saja, setiap orang memiliki preferensi masing-masing kepada apa/siapa keterikatan itu dalam dirinya.

Keterikatan yang saya miliki adalah keterikatan kepada orang, peristiwa, dan keadaan. Dulu, move on dari seseorang atau peristiwa adalah suatu hal yang menyulitkan bagi saya.
Dan tak jarang kenyamanan atau pun keterpurukan adalah musuh terbesar saya. Sampai saya lupa, bahwa semuanya bisa datang dan pergi kapan saja.
Namun, dari situ saya mulai belajar memahami bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Tentang datang dan pergi. Itu yang akan saya coba bagikan disini.

Ada waktu dimana kita merasa sangat sangat sangat (kalau bisa ‘sangat’ yang tidak terhingga) bahagia. Rasanya, kita ingin waktu itu membeku. Masing-masing orang berbeda dalam menyikapinya. Ada yang membagikan untuk sekadar bercerita, atau membagikan untuk berbagi kebahagiaan (katanya?), atau sekadar mengucap syukur dan bersikap seperti biasa saja, atau sikap-sikap lainnya.
Kemudian, ada waktu dimana kita merasa sangat sangat sangat (kalau bisa ‘sangat’ nya melebihi tidak terhingga) terpuruk atau bersedih. Kalau ini rasanya banyak sekali. Bisa menyalahkan diri sendiri, putus asa, marah, ingin segera berakhir dg berbagai cara, dan sebagainya.

Tentunya, disini saya tidak ingin membahas benar atau salah. Saya hanya perlu membagikan apa yang saya pelajari dan pahami sampai hari ini. Saya pun pernah mengalami dua masa itu, dan saya juga pernah menyikapi dua hal tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Hingga akhirnya, saya meyakini bahwa bahagia dan sedih hanyalah sementara. Dan dalam menyikapinya, saya mencoba untuk menyadari ‘kesementaraan’ tersebut. Bersyukur dan tidak berlebihan. Membagikannya kalau diperlukan.

Sama halnya dengan keterikatan pada orang, banyak dari kita pernah mengagumi seseorang. Sampai-sampai kita bukan lagi melihat apa yang dikatakan, melainkan siapa yang mengatakan. Bukan salahnya siapa-siapa, kalau suatu hari akan ada kecewa yang timbul dihati kita. Karena pada dasarnya, manusia memang berpotensi menjadi sumber kecewa. Kalau benar petuah dan perangainya menginspirasi kita, cukup tauladani kebaikannya dengan cara kita. Juga pahami dan ingatkan dengan ahsan kalau memang ada celanya. Tidak perlu ‘terlalu’ menyukai, pun membenci. Biasa saja.

Dari memahami kedatangan seseorang, peristiwa, dll beserta kepergiannya, saya menyadari bahwa kita harus selalu bersiap. Bersiap untuk menyambut sekaligus mengucapkan selamat tinggal dengan kelapangan hati.

Siapa dan apa saja yang datang dan pergi silih berganti di hidup kita, bukanlah sesuatu yang tidak direncanakan oleh-Nya. Buruk atau baik itu hanya sebatas akal dan kacamata kita sebagai manusia.

Dari perjalanan-perjalanan itu saya merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi di hidup kita, selalu terdapat hikmah dan pelajaran yang amat berharga kalau kita benar-benar mau memahami. Barakallahu fiikum.

Wallahu’alam bisshowab.

Malang, 4 Oktober 2018

15.06 WIB

bukan dia, tapi Dia.

Him

picture editing on canva

Awal bertemu
Kata-katanya, tak merayu
Tingkah lakunya, tak jua dungu

Pribadi memesona
Pejuang kebaikan, ku kira
Pemilik hati mulia, ku rasa
Sampai kini aku percaya,
ia buktikan dalam nyata

Hari-hariku semakin warna-warni
Suguhan kisah-kisah inspirasi
Begitu hangat dan penuh kasih
Tak lupa ku rekam dalam memori

Hingga ku dengar petuah bijak
Bahwasanya, aku dan dia
Harus berjarak

Sejak itu, rasaku pilu
Merindu akan dia
Yang dahulu pernah bertamu
Menghiasi hidupku

Mengupaya sembuhkan luka
Aku dan dia, tak lagi berjumpa
Pasrahkan segala rasa
Bersama skenario indah-Nya

Dan ternyata,
Memang benar adanya
Dia-lah, muara segala cerita.

23:45 WIB
Bekasi, 28 Januari 2017 (dengan sedikit aransemen pada 16 Juli 2018)

Gema, suara yang dinanti

Terkisah seorang pembelajar yang senang mendengar petuah-petuah bijak. Ia mencoba untuk berdialog tentang gusar yang menyeruak dipikirannya.

 

Dialog pun dimulai olehnya dari salah satu sudut.

“Seringkali timbul dalam diri kita rasa kecewa

ketika seseorang mengingatkan akan kebenaran

kemudian di lain waktu seakan tak pernah mengatakan, sampai-sampai melalaikannya.

Padahal, mereka mengingatkan bukan untuk menggurui dan merasa dirinya sudah paling benar.

Melainkan, mereka mengingatkan karena mereka memahami fitrah manusia. Yang kadang tak sadar, melakukan khilaf dan dosa. Tentu saja, itu tak layak dijadikan alasan.

Tapi paling tidak ini menjadi pengingat untuk kita dalam mengelola hati sebelum rasa kecewa itu terus berkembang menjadi rasa-rasa yang tidak seharusnya bersemayam, bahwa seperti itu fitrahnya.

Oleh karenanya, mereka butuh kita untuk mengingatkannya kembali.”

 

Sesaat kemudian sudut yang lain menimpali,

“aku sudah pernah mencobanya, namun ia mengelak ya… bisa dibilang ngeles gitu lha saat diingatkan.”

Sudut pertama belum sempat menjawab, sudut lain melanjutkan tanggapannya,

“lagi pula, kau naif sekali. Rasanya terlalu husnudzon deh kalau berpikir mereka seperti itu..”

 

Sambil meresapi tanggapan dari sudut lain, sudut pertama mulai menjawab dengan perlahan.

“hmm… benar juga apa katamu. memang ada sebagian yang seperti itu, tapi ku rasa tidak semuanya. Akan banyak kau temui mereka yang senang diingatkan, hanya saja proses menerimanya yang membedakan. Kadang gengsi lha yaw langsung mengiyakan gitu. Hi..hi..”

“Pun saat ada penolakan dan mengeles, bukan berarti kamu boleh menyerah untuk melakukannya/

Mungkin kau bisa perbaiki caramu,

atau…

coba tanyakan kembali pada hatimu, ‘sudah ikhlas kah hatiku saat melakukannya?’”

 

“Oh ya, satu lagi. Iya benar juga, sungguh melelahkan ya ber husnudzon. Tapi rasanya suudzon itu jauh lebih melelahkan bukan? Haha. Tidak apa-apa aku naif, punya banyak karya dong?! (band naif maksudnya. Ini bukan lelucon kok, pembelaan sebelum dibilang tidak lucu).”

 

Sudut pertama dan sudut lain pun mulai mengerti apa yang seharusnya sama-sama mereka perbaiki.

 

PS. Terinspirasi dari kejadian di warung kopi bersama seorang ibu dan pesan seorang ibu lainnya disebuah forum yang berkata “adik-adik maaf kalau suara saya terlalu kencang, saya sengaja melakukannya. agar suara saya sampai ke tembok, kemudian memantul dan kembali kepada saya. Iya, ini pengingat buat saya juga.”

 

20.30 WIB

Cibubur, 26 Juni 2018

Muhasabah Rindu

Terpejam dalam temaram

Terbenak riuh beribu gumam

Tak menyangka, hidup kian suram

Terlupa akan Pencipta semesta alam

Sungguh, rasa hati hampa

Begitu pun raga

Terbaur lumuran dosa

Mengingat yang dahulu

Do’a-do’a mengalun dalam denyut waktu

Tentram menguasa kala itu

Kini terjelma menjadi rindu

Terbelenggu, memilu

Menyeruak pada nurani

Untuk mendekat kembali

Tak lupa berbenah diri

Upaya hias pribadi

Tertekad yang mengangkasa

Pantaskan alunan sapa

Perlahan mulai tertata

Terkisah jiwa menjemput ridho-Nya

22.48 WIB

Cibubur, 28 Januari 2017.

P.S. Puisi ini ditemukan setelah merapikan berkas-berkas di surat elektronik. Puisi yang dibuat dalam mengikuti sayembara Antalogi Puisi oleh Rumahkayu Publisher dan alhamdulillah, karya ini belum berkesempatan untuk dibukukan dalam sayembara tersebut. Semoga tetap bermanfaat. Aamiin.

Love Is…

Hatinya berdegup kencang. Mulut terkunci rapat, bisu seribu bahasa. ia sedang terjangkit sebuah “virus”. Virus yang membahayakan apabila tidak dikendalikan. Orang-orang lebih mengenal “virus” itu dengan sebutan CINTA.

Padahal dalam agamanya, cinta itu fitrah. Dan cinta itu perlu ada, dengan porsi dan posisi yang tepat dalam meletakkannya. Kemudian, ia teringat pesan sahabatnya dulu, “aku baru tau, ternyata hati manusia itu hanya cukup untuk 1 tempat saja, kamu tau ngga siapa yang berhak ada disana?” dia pun terdiam, berpikir. Dalam pikirannya penuh tanya yang berkecamuk ‘kok cuma satu? Padahal semua itu berhak aku cintai, ada Allah, rasulullah, umi, abi, saudara, dll’ akhirnya ia balik bertanya, “memangnya siapa?” sahabatnya pun menjawab, “Allah”. Dia mulai setuju, tapi masih bertanya-tanya, sampai akhirnya sang sahabat menjelaskan, “iya, cukup Allah saja yang ada dihati kita. sedangkan bentuk cinta kita kepada orangtua, saudara, teman, dan lainnya adalah dampak dari cinta kita kepada Allah. Paham kan?” akhirnya ia mengangguk pertanda paham dan setuju.

Telah lama ia mendapatkan pesan itu dari sahabatnya. Namun, masih melekat begitu kuat di pikirannya. Iya pesan itu selalu menjadi pengingat baginya ketika khilaf, terlebih ia hanya seorang manusia biasa yang senantiasa berproses dalam hidupnya. Mereka yang datang silih berganti sebagai pengingat adalah nikmat dari-Nya yang selalu ia syukuri. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, ucapnya berulang kali.

PS. Terinspirasi dari QS. Al-Ahzab ayat 4

Malang, 1 Juni 2018.